Tips Merancang Pembagian Harta Warisan Keluarga Sejak Awal

Satu diantara kejelasan dalam kehidupan ialah kematian. Serta kebalikannya dengan hal itu, hal yang belum pernah tentu ialah waktu kematian itu. Sudah pernahkah Anda memikirkan bila satu hari kematian mendekati, ke mana harta benda yang Anda punya?



Mungkin buat Anda yang sudah berencana warisan akan menjawab ke pakar waris saya. Tetapi bagaimana bila waktu itu datang, Anda belum berencana warisan Anda?

1. Apa Itu Warisan? 


Sebelum bicara lebih dalam tentang utamanya berencana warisan, sebaiknya Anda tahu pemahaman warisan. Diambil dari Wikipedia, warisan datang dari bahasa Arab Al-miirats yang berarti bentuk masdar (infinititif) dari kata waritsa-yaritsu-irtsan-miiraatsan. Sedang pakar waris ialah beberapa orang yang memiliki hak terima harta peninggalan (mewarisi) orang yang wafat, baik sebab jalinan keluarga, pernikahan, atau sebab memerdekakan hamba sahaya.

Harta warisan dalam arti fara’id diberi nama tirah (peninggalan) ialah suatu yang dibiarkan oleh orang yang wafat, baik berbentuk uang atau materi yang dibetulkan oleh syariat Islam untuk diwariskan pada pakar warisnya. Secara singkat, warisan ialah berpindahnya hak serta keharusan atas semua hal, baik harta atau tanggungan dari orang yang sudah wafat pada keluarga yang masih hidup.

2. Hukum Waris di Indonesia 


Dalam kehidupan seharian, diketahui tiga hukum waris di Indonesia, yaitu hukum waris Islam, hukum waris perdata, serta hukum waris tradisi.

a. Hukum Waris Islam

Menurut hukum waris Islam, ada tiga ketentuan supaya pewarisan dikatakan ada hingga bisa memberikan hak pada seorang atau pakar waris untuk terima warisan:

Orang yang mewariskan (pewaris) sudah wafat serta bisa di tunjukkan dengan hukum dia sudah wafat. Hingga bila ada pembagian atau pemberian harta pada keluarga pada saat pewaris masih hidup, itu tidak terhitung dalam kelompok waris tapi disebutkan hibah.
Orang yang mewarisi (pakar waris) masih hidup saat orang yang mewariskan wafat.
Orang yang mewariskan serta mewarisi mempunyai jalinan keturunan atau kekerabatan, baik pertalian garis lurus ke atas seperti ayah atau kakek serta pertalian lurus ke bawah seperti anak, cucu, serta paman.
Pembagiannya.

b. Hukum Waris Tradisi

Di Indonesia hukum waris kenal beberapa jenis skema pewarisan. Apa sajakah?

Skema keturunan: skema ini dibedakan jadi tiga jenis yakni skema patrilineal yakni berdasar pada garis keturunan bapak, skema matrilineal berdasar pada garis keturunan ibu, serta skema bilateral yakni skema berdasar pada garis keturunan ke-2 orangtua.

Skema Perorangan: berdasar pada skema ini, tiap pakar waris memperoleh atau mempunyai harta warisan menurut bagiannya semasing. Biasanya skema ini diaplikasikan pada warga yang berpedoman skema kemasyarakatan bilateral, seperti Jawa serta Batak.

Skema Kolektif: pakar waris terima harta warisan jadi satu kesatuan yang tidak terbagi-bagi perebutan atau miliknya serta setiap pakar waris cuma memiliki hak untuk memakai atau mendapatkan dari hasil harta itu. Misalnya ialah barang pusaka di satu warga tersendiri.

Skema Mayorat: dalam skema mayorat, harta warisan diarahkan jadi satu kesatuan yang tidak terdiri dengan hak perebutan yang dilimpahkan pada anak tersendiri. Contohnya pada anak paling tua yang bekerja jadi pemimpin keluarga menukar posisi ayah atau ibu jadi kepala keluarga, seperti di warga Bali serta Lampung harta warisan dilimpahkan pada anak paling tua serta di Sumatra Selatan pada anak wanita paling tua.
c. Hukum Waris Perdata
Hukum waris perdata atau yang seringkali disebutkan hukum waris Barat berlaku untuk warga nonmuslim, terhitung masyarakat negara Indonesia keturunan, baik Tionghoa atau Eropa yang ketetapannya ditata dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHP).

Hukum waris perdata berpedoman skema perorangan dimana tiap pakar waris memperoleh atau mempunyai harta warisan menurut bagiannya semasing. Dalam hukum waris perdata ada dua langkah untuk mewariskan:

Mewariskan berdasar pada undang-undang atau mewariskan tanpa ada surat wasiat yang dikatakan sebagai Ab-instentato, sedang pakar warisnya disebutkan Ab-instaat. Ada 4 kelompok pakar waris berdasar pada UU: Kelompok I terbagi dalam suami istri serta beberapa anak dan keturunannya; Kelompok II terbagi dalam orangtua serta saudara-saudara dan keturunannya; Kelompok III terbagi dalam kakek, nenek dan selanjutnya ke atas; serta Kelompok IV terbagi dalam keluarga dalam garis menyamping yang lebih jauh, terhitung saudara-saudara pakar waris kelompok III dan keturunannya.
Mewariskan berdasar pada surat wasiat, yakni berbentuk pengakuan seorang mengenai apa yang dikehendakinya sesudah dia wafat yang oleh si pembuatnya bisa dirubah atau dicabut kembali sepanjang dia masih hidup sesuai Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Masalah 992. Langkah pembatalannya harus dengan wasiat baru atau dikerjakan dengan Notaris.
Ketentuan pengerjaan surat wasiat ini berlaku buat mereka yang telah berumur 18 tahun atau lebih serta telah menikah walau belum berumur 18 tahun. Yang terhitung kelompok pakar waris berdasar pada surat wasiat ialah kebanyakan orang yang dipilih oleh pewaris lewat surat wasiat menjadi pakar warisnya.

3. Mengapa Berencana Warisan Itu Penting? 



Ada banyak fakta yang membuat Anda harus menyiapkan warisan atau surat warisan, yakni:

1. Menahan warisan jatuh ke tangan yang tidak memiliki hak

2. Menahan perselisihan keluarga

3. Anda ialah pelacak nafkah penting dalam keluarga Anda. Kesadaran akan ini pasti jadi penting, mengingat tanggungan beberapa anak yang Anda punya.

4. Anda mempunyai utang yang lumayan besar yang bisa diwariskan pada keluarga Anda

5. Anda tidak ingin keluarga yang dibiarkan cuma nikmati beberapa dari harta warisan Anda.

Baca : Lebih Untung Mana: Warisan Emas Batangan atau Rumah?

4. Kapan Saatnya?
Waktu yang pas berencana warisan lewat ambitionhundred.com

Berencana pembagian warisan semenjak awal dapat menahan peluang kekayaan jatuh ke tangan orang yang tidak memiliki hak. Seperti yang diterangkan oleh Budi Raharjo, Managing Mitra One Consulting yang bertindak jadi pengajar program Certified Financial Planner (CFP) di Kampus Usaha Nusantara, rencana warisan semestinya Anda kerjakan saat ada di umur produktif, di antara usia 40 tahun s/d 45 tahun.

Budi memberikan tambahan, "rencana warisan akan membuat perlindungan asset hingga betul-betul jatuh ke tangan keluarga, serta pastikan pembiayaan kehidupan mereka seterusnya."

5. Bagaimana Triknya?

Rencana warisan jadi pelindung pemilikan asset, contohnya asset diagunkan ke bank, butuh Anda pikirkan bagaimana jalan keluar bila berlangsung suatu yang tersangka sebelum utang lunas. Dengan demikian, asset jadi punya keluarga, bukan jadi punya bank. Atau juga bisa jadi mengantisipasi bila harta kekayaan ada di negeri, tetapi menyebar di luar negeri yang mempunyai skema hukum yang berlainan.

Pada hakekatnya pakar waris tidak bisa cuma ingin terima harta, tetapi tidak ingin terima warisan utang. Mereka harus terima dua-duanya, karenanya penting buat Anda untuk berencana warisan berbentuk surat wasiat.

Beberapa dari Anda mungkin banyak tidak pahami atau bahkan juga tabu mengenai bagaimanakah cara tulisan surat wasiat, berikut hal yang butuh dilihat:

# Mengumpulkan semua info 


Mulai mengumpulkan info mengenai harta, asset, serta nilai kekayaan, dan info mengenai pajak-pajak yang sudah dibayarkan atau belum dibayarkan. Bila warisan berbentuk rumah, hal yang harus jelas ialah alamat rumah, luas, serta prediksi harga objek pajak (NJOP). Tanyakanlah apa rumah itu masih dipunyai dengan utuh atau sedang/sudah pernah diagunkan ke bank.

# Detil dengan detil 


Detil dengan detil semua bentuk saham atau obligasi yang dipunyai. Dari mulai jumlahnya, nilai, tingkat dividen, tanggal transaksi serta hal yang lain. Dan jumlahnya utang yang dipunyai, berapakah nilai utang, tingkat bunga, kapan transaksi utang berlangsung, serta pada siapa berutang. Ini penting sebab utang jadi hal yang “wajib” untuk diwariskan.

# Tanyakanlah faedah pertanggungan asuransi 


Ini yang seringkali ditanyakan sebelum membuat surat wasit, apa faedah pertanggungan asuransi dapat diwariskan ataukah tidak. Ini penting untuk tercantum dalam surat wasiat. Bukan sekedar itu, hal-hal lain yang harus juga ditanyakan ialah pertanggungan asuransi yang dipunyai, nama perusahaan itu, alamat, agen, type asuransi s/d nilai pertanggungan.

Info ini dibutuhkan untuk tahu nilai pertanggungan asuransi, yang umumnya memikul atau ganti ongkos kematian.

Dalam surat wasiat, Anda dapat juga memberikan info serta data pribadi semua keluarga penerima waris, contohnya nama, alamat komplet, nomer telephone, tanggal lahir, nomer KTP, kewarganegaraan, status, serta pekerjaan. Komponen yang lain dapat Anda imbuhkan contohnya gender, potensi keuangan, ketrampilan basic, atau karier.

# Berapakah ongkos yang dikeluarkan 


Paling akhir ialah membuat kelompok data diatas serta mengalkulasi ongkos yang perlu dibutuhkan untuk pengerjaan surat wasiat itu. Untuk lakukan hal itu, Anda dapat memakai jas konsultasi keuangan tersendiri, pengacara, atau notaris yang pahami masalah hukum.

Targetkan Warisan Anda dengan Jeli

Dengan berencana warisan, Anda bisa menghindarkan perselisihan keluarga dalam soal pembagian harta. Diluar itu, masalah dalam pengendalian usaha keluarga atau usaha patungan. Menegaskan apa usaha akan diurus pakar waris tersendiri ataukah tidak.

Hal itu tentunya punya pengaruh pada alami penurunan atau tidaknya usaha Anda serta rekanan Anda bila berlangsung ketidaksamaan misi serta visi pakar waris dengan relasi usaha. Untuk itu disarankan sekali pencantuman proses dalam surat wasiat Anda. Karenanya targetkan warisan Anda dengan bijak serta jeli.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Digital Financial Services

Enterprise Bank & Trust Thіnk Tank Survey

Money Saving Tips